MANJOMPUT NA SINURAT (MEMBUANG UNDI): Monograf Teologi Praktis tentang Kepemimpinan Gereja Indonesia


 Penulis : 

St. Dr. Rodlany A. Lbn. Tobing, S.E., MBA, M.Min., M.Th. 

 

ISBN:  

 

Desain Sampul dan Tata Letak:   

Abu Syahla 

 

Penerbit : Mitra Ilmu 

 

Ukuran : 23 x 15 cm (Standar UNESCO) 

 

Kantor:  

Jl. Kesatuan 3 No. 11 Kelurahan Maccini Parang 

Hp. 081340021801/ 0852-9947-3675/ 0821-9649-6667 

Email : mitrailmua@gmail.com  

Website : www.mitrailmumakassar.com 

Anggota IKAPI Nomor: 041/SSL/2022 

 

Cetakan pertama: Mei  2026 



SINOPSIS : 

Di tengah modernitas organisasi gereja, pemilihan pemimpin gereja aras nasional semakin dihadapkan pada berbagai dinamika: politik gereja, polarisasi komunitas, personalisasi kekuasaan, pragmatisme organisasi, hingga krisis spiritualitas kepemimpinan. Dalam konteks tersebut, praktik manjomput na sinurat—yang secara harfiah berarti “membuang undi”—menjadi menarik untuk direfleksikan kembali.

 

Buku monograf ini tidak sekadar membahas manjomput na sinurat sebagai mekanisme tradisional pemilihan pemimpin gereja, tetapi membacanya sebagai ruang refleksi teologis mengenai discernment komunitas, spiritualitas kepemimpinan, relasi antara tradisi dan modernitas, serta pergumulan gereja Indonesia dalam menjaga pencarian kehendak Tuhan di tengah kompleksitas organisasi gereja modern.

 

Melalui pendekatan teologi praktis berbasis penelitian empiris, buku ini mengintegrasikan:

  • refleksi teologis,
  • data survei dan perspektif responden,
  • dinamika kepemimpinan gereja Indonesia,
  • kritik terhadap modernitas organisasi gereja,
  • serta refleksi pastoral mengenai krisis spiritualitas kepemimpinan gereja.

 

Buku ini menunjukkan bahwa persoalan terbesar gereja modern mungkin bukan terutama bagaimana memilih pemimpin gereja, melainkan bagaimana menjaga spiritualitas kepemimpinan Kristen di tengah dunia yang semakin kompetitif, birokratis, dan materialistik.

Karena itu, refleksi terhadap manjomput na sinurat pada akhirnya membawa gereja pada pertanyaan mendasar:

Apakah kepemimpinan gereja masih sungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan di atas ambisi manusia?

 

Ditulis oleh Dr. Rodlany A. Lbn. Tobing, S.E, MBA, M.Min, M.Th, seorang dosen yang berpengalaman mengajar di beberapa perguruan tinggi dan perusahaan, dan penulis yang berdedikasi dalam pendidikan teologi dan pembinaan spiritual. Berpengalaman panjang dalam dunia korporasi sebagai profesional yang merintis karir sampai tingkat pemimpin senior di beberapa perusahaan nasional, multi nasional, dan internasional  di hampir semua bidang pekerjaan termasuk penjualan, pemasaran, pendidikan, pelatihan, dan pengembangan sumber daya manusia sangat memperkaya pengalaman hidupnya.

Selain mengajar dengan konsentrasi pada Teologi Praktis, penulis juga dipercaya sebagai Wakil Ketua Bidang Administrasi dan Keuangan di Sekolah Tinggi Teologi Harapan Indah di Bekasi. Sebagai pelayan jemaat, dengan menjadi penatua (Sintua) di Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Immanuel, Kelapa Gading, Jakarta Utara sejak 2010, dan terpilih di Sinode menjadi salah seorang anggota Majelis Pekerja Sinode Distrik VIII DKI Jakarta 2024 - 2028.

 

Untuk tidak kehilangan sensitivitas pada komunitas sosial budaya yang seringkali dikategorikan sebagai “sekuler”, penulis juga aktif sebagai pengurus organisasi masyarakat pada Dewan Pimpinan Pusat Pemuda Batak Bersatu (DPP PBB) dengan menjadi Kepala Departemen Wirausaha periode 2022 – 2024 dan berlanjut menjadi Wakil Sekretaris Jenderal untuk periode 2025 – 2030. Ikut merintis berdirinya ormas kebangsaan Jaga Nusantara Bersama (Jagatara) dan aktif di Dewan Pimpinan Pusat sebagai Ketua Bidang Bisnis dan Ekonomi. Baru-baru ini terpilih menjadi Ketua Harian Punguan Pomparan Si Raja Lumban Tobing Ompung Rangkea Sipagagan se-Jabodetabek untuk lima tahun mendatang seakan melengkapi pelayanan kepemimpinannya dalam adat istiadat setelah menjadi Bendahara Umum pada Punguan Sianturi Simatupang Simataniari Boru Bere se-Jabodetabek sejak tahun 2024 yang lalu. Menjadi Penceramah Madya Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) 2025-2029 adalah bukti nyata sikap kebangsaan penulis yang cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai “harga mati”.